Seonggok bara
membuncah,
Gapai titik api yang
mulai beku.
Menyeringai retak,
pecah
Bagai cermin dihantam
peluru
Aku.....,
Hanya secuil harap dari
sisa waktu
Menyayati sembilu
berpilu-pilu
Meranggas, terhempas
dan mengabu
Waktu telah menikamku
bertalu-talu
Lidah api kini
menari-nari,
Menusuk ruang dari
segala dimensi
Bagai belati meliuk
penuh birahi
Menggores asa dari dua
sisi
Bara yang beku, dan
Belati yang legam lebam
Meremas kata dan nada
Ada
*Kedaung,
18 Juli ‘14

Tidak ada komentar:
Posting Komentar